Aku membalikan badan dengan perasaan kalut. Kulipat mukena dan kumasukan ia ke dalam tas, lalu beranjak pergi dari dalam masjid itu. Ada apa denganku? Rasanya beberapa kalimat do'a yang kupanjatkan justru semakin menghujam dada dan membuat mata perih, Tuhan. Aku melangkah dengan terburu-buru, melewati tangga melingkar sembari berkelit agar tak bertabrakan dengan jamaah lain.
Mataku mulai penuh berisikan bulir airnya, aku pun tak kuasa kembali ke rombonganku dan memutuskan untuk berhenti sejenak. Menenangkan diri.
"Ibu, aku sekarang lagi di universitas impianku ...." Aku terisak, disusul nada bicara ibuku yang panik dan kebingungan. "Ada apa?" katanya.
"Ibu tau kan, aku tuh pengen ... pengen banget ... kuliah di sini, di pendidikan matematika." Napasku tersendat-sendat diiringi suara tangis yang kutahan agar tak terdengar.
Ibu menghela napas, "Lalu mau Kakak apa?" tanya Ibu. "Hm?"
"Aku ...."
"Ibu cuma bisa dukung apa yang menjadi cita-cita Kakak." kata Ibu menyela perkataanku.
"Iya ...." Aku menutup mulutku, isakannya semakin menjadi.
"Ibu yakin, Kakak udah cukup dewasa buat mutusin jalan mana yang akan Kakak tempuh."
Suara lembut Ibu meluluhkan lebih banyak air mataku, "Kalau emang segitu sukanya dengan matematika dan mau memperjuangkannya, Ibu ga masalah kok ... kalaupun Kakak harus keluar dari kampus yang sekarang."
"Tapi bu, justru ... Aku yang ga yakin sama kemampuanku sendiri. Gimana kalau ternyata aku gagal dan malah ga kuliah sama sekali?" Aku merengut, membayangkan kenyataan yang tak pasti di hadapan sana.
Ibu kembali mengendus sedih, terdengar suara adikku yang meringsak ke dekat telepon di seberang sana. "Kakak, Kakak kenapa?"
"Aku kok ... kaya pengecut ya, Bu...."
Suasana masjid saat itu memang tengah ramai, riuh rendah karena masih dalam rentang waktu salat zuhur. Hilir mudik jamaah masjid -yang mungkin saja tak sengaja mendengar lirihnya suara tangisku- sama sekali tak kupedulikan. Aku ingin pergi ke pelukan Ibu untuk sejenak melupakan mimpi-mimpi yang telah menyerah atasku.
=========================================================================
Kamis, 15 Februari 2018
Seperti biasa, mobil-mobil angkot telah berbaris rapi menunggu gilirannya mengangkut penumpang. Aku dan Ranti menaiki mobil paling depan dengan tergesa-gesa. Masih kosong ternyata, padahal kami telah bergegas sejak pertigaan yang 500 meter jaraknya dari sana.
"Asem! Lah mobilnya masih kosong, Na!" seru Ranti sambil mengempaskan badannya yang berkeringat ke kursi mobil.
"Ya kan, gw juga ga tau!" timpalku. "Lagian nih, kalau kita ga buru-buru tadi... kita kan ga pernah tau, kalau aja mobilnya udah penuh dan akhirnya kita ditinggalin, gimana? Hayoo!"
"Iya, iya ... si paling efisien!" Ranti mengerlingkan mata, lalu sedetik kemudian tertawa.
"Apa sih, Ran...." sambutku, ikut tertawa.
Angkot itu terisi penuh tak lama setelahnya. Cepat, sebab kami pulang tepat pada waktu kegiatan belajar mengajar selesai.
Sekolahku berada di pusat kecamatan, berdampingan dengan banyak sekolah lain. Sudah menjadi pemandangan yang sangat normal, melihat segerombol seragam putih memenuhi angkot dengan wangi khasnya, baru keringat.
"Panas banget ya, nyalain AC napa bang," canda Ranti sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke arah wajah, berharap ada semilir angin yang melintas di sana.
"AC alami we neng, namanya AG ... Angin Gelebug!" saut supir angkot sambil menarik tuasnya.
Percakapan template, pikirku.
"Eh Ran, lu jadinya gimana ... ga ikut seleksi masuk kampus?" tanyaku mengalihkan topik.
"Ngga, gw ga ada niatan buat kuliah. Lu gimana, kemarin katanya bingung mau pilih kampus mana?"
Blush~
Ranti membuka kaca mobil lebar-lebar, membebaskan udara yang terperangkap.
"Iya ... kemarin emang bingung banget."
"Terus, sekarang?"
"Hmm...." Aku berpikir sejenak.
Sekadar informasi, aku masih merasa sulit untuk membuka diri saat itu. Membagikan kisahku, rasanya seperti membuka luka dan mengumumkan ketidak berdayaanku di hadapan orang lain. Ranti memang sahabatku, ia teman semejaku dulu. Yah meski begitu, dia pun masih orang lain.
"Gue sempet mikir buat masuk ke kampus yang kastanya tinggi sih, tapi ya gimana ya ... lu tau sendiri, rapor gue segitu jebloknya!" pasrahku.
"Kalau itu, gue setuju! hehe," kekeh Ranti, yang kemudian berbuah manis dengan tonjokan kecil di lengannya. "Dasar ya!"
"Gue tuh maunya ngambil jurusan pendidikan matematika, Ran...." Aku menyilangkan kedua tanganku di dada, kemudian bertatapan dengan Ranti. Dia menatap seolah heran, dan aku pun ikut heran dibuatnya.
"Eh, ngga, ngga... maksud gue, harus pokoknya! Harus pendidikan matematika!" Ranti tersenyum mendengarnya, ia mengendus dan tertawa kecil. Kami memang terbiasa menggunakan kata 'harus' dalam setiap keinginan. Bukan, bukan bermaksud memaksakan kehendak. Tapi satu hal yang kami yakini adalah bahwa tekad merupakan dorongan yang kuat untuk menjadikan impian menjadi realitas.
Namun, rasanya kami saat itu masih belum menyadari poin pentingnya.
"Gue percaya, Na. Ga ada satu pun orang yang gue kenal, yang lebih cinta sama matematika dibanding lu!" Kini giliran aku yang tersenyum mendengar perkataan Ranti.
"Just go for it!" seru Ranti.
Aku kembali tersenyum kecil, bahagia dan sekaligus malu karena seluruh populasi dalam angkot yang kami naiki kini menatap aneh dan ada juga yang ikut terkekeh.
Aku berbisik pada Ranti, "Ran, kalau gue gagal masuk, lu harus tanggung jawab ya ... lu tau kan, gue harus kuliah, harus pokoknya!" Ranti menatapku heran. Kami bertatapan sebentar, seakan saling mengirim sinyal telepati, lalu saling tertawa bersama. Ranti pun mengangguk, mengiyakan.
=========================================================================
Selasa, 24 April 2018
"Na, lu kok ga bales sms gw sih?" bunyi pesan singkat yang Ranti kirim kepadaku.
Sudah cukup lama aku menghilang dari arus dunia maya. Ranti terus mengirimiku pesan, menanyakan aku dimana, sedang apa, dan mau makan apa.
Dia memang sahabat yang pengertian. Dari sekian banyak pesan yang dikirimkan, tak kutemui satupun pertanyaan tentang seleksi masuk. Tapi meski begitu, aku tetap saja menangis setiap kali membaca pesannya.
"Ran, lu tau kan gue harus kuliah...."
"Na, dengerin gue ... lu bakal kuliah! Gue yakin banget, percaya deh ... lu cuma butuh move on dan cari jalan lain."
"Terus, gue harus gimana?"
"Hm,"
"Daftar tes sekarang juga, udah H-3 pendaftaran tuh!"
"Lu harus tau, walaupun rapor lu jeblok kaya mencret ayam ... tapi otak lu ngga, Na! Otak lu tuh encer kok, kaya pipis kucing tau ngga ... saking encernya! Haha," lanjut Ranti.
"Dasar!" balasku. "Yaudah, gw daftar nih ya..."
"Sip siip, gini dong ... baru sahabat gue!"
"Berisik ah!"
=========================================================================
to be continued....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar