• Review Film: Hotel Mumbai (2018)

    Bisakah kamu bayangkan, bagaimana rasanya dikepung oleh ratusan tembakan saat sedang berlibur?

    Ya, suasana tersebut mungkin tidak pernah kamu alami di sepanjang hidupmu. Namun, lewat film ini kamu setidaknya akan dapat merasakan sensasi menegangkannya.

    Hotel Mumbai, merupakan salah satu karya dari sutradara Anthony Maras dengan naskah yang ditulis oleh John Collee. Dibintangi oleh Dev Patel, Armie Hammer, Anupam Kher, dan Nazanin Boniadi, naskah film ini ditulis berdasarkan kisah nyata, yaitu tragedi terorisme yang terjadi di Mumbai India pada tahun 2008. Film ini kemudian dibuat di 10 tahun kemudian, tepatnya ditayangkan pertama kali pada 2018 di Toronto International Film Festival dan diputar di bioskop setahun kemudian. Film berdurasi 122 menit ini menceritakan secara detail peristiwa berdarah tersebut, mulai dari awal hingga akhir, tentunya dengan dramatisasi dan penambahan detail cerita.  

    Serangan terorisme di Mumbai berlangsung selama 26 sampai dengan 29 November 2008. Peristiwa berdarah tersebut didalangi oleh salah satu sindikat teroris terbesar yang berpusat di Pakistan, yaitu Laskar e Taiba. Sindikat teroris yang menganut paham ekstrim Islam ini merupakan otak dari berangkatnya 10 pemuda ke Mumbai untuk melakukan serangan.

    Para pelaku menyebrangi lautan dengan membawa senjata, granat, dan bahan peledak, kemudian berpencar dan menyerang tempat-tempat ramai di Mumbai. Diantara tempat-tempat yang diserang adalah: Hotel Oberoi Trident; Hotel Taj Mahal; Kafe Leopold, sebuah restoran yang terkenal di kalangan turis; Rumah Sakit Cama; Nariman House, gedung pusat komunitas Yahudi Mumbai Chabad House; dan kantor polisi. Serangan tersebut dimulai pada pukul 21.20 waktu setempat di Stasiun Chhatrapati Shivaji, salah satu stasiun tersibuk di dunia, lalu berlanjut ke tempat-tempat lainnya. Aksi penembakan tersebut menewaskan setidaknya 188 korban jiwa dan 370 korban luka lainnya, serta merusak properti dan fasilitas umum.

    Pada film Hotel Mumbai, latar tempat yang menjadi fokus utama adalah Hotel Taj Mahal, salah satu hotel mewah yang berada di Mumbai. Film dimulai dengan adegan Ajun (Dev Patel) yang meninggalkan istri serta anaknya untuk bekerja sebagai pelayan di Hotel Taj Mahal. Tak lama kemudian, terjadi serangan teroris di pusat kota yang dengan cepat menyebar hingga memasuki hotel megah tersebut. Ajun dan Hemant Oberoi, yaitu chef yang diperankan oleh Anupam Kher, pada akhirnya berperan sebagai aktor utama dalam upaya pengamanan dan penyelamatan para tamu hotel.

    Film Hotel Mumbai mengisahkan perjuangan para korban dalam bertahan dari serangan teroris -yang dalam waktu singkat sudah menguasai seluruh hotel. Upaya pengamanan tersebut berlangsung menegangkan, diwarnai dengan tembakan peluru yang membombardir setiap kali pergerakan korban terdengar oleh para pelaku. Ada banyak sekali adegan yang membuat kita terdiam dan mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya, termasuk rasa gemas akan tindakan-tindakan ceroboh yang dilakukan oleh para korban.

    Upaya penyelamatan berlangsung sangat sulit, sebab seluruh pintu masuk telah dikuasai oleh para teroris dan polisi lokal tidak terlatih untuk mengatasi masalah semacam ini. Pada akhirnya, para korban pun harus menunggu lama sampai regu penyelamat yang diberangkatkan dari Delhi datang dan menyelamatkan mereka. Waktu yang terasa begitu lama pun memaksa beberapa orang untuk mengambil tindakan mandiri untuk menyelamatkan diri ataupun keluarganya dari situasi ini.

    Rasa tegang dan kesal menjadi emosi utama yang akan dirasakan ketika menonton film ini. Namun di samping itu, film ini juga akan membuat penontonnya merasa tersentuh dan haru karena beberapa adegannya yang hangat. Isu SARA dan humanisme menjadi isu utama yang diangkat melalui film ini. Setiap scene dalam film ini dihiasi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari berbagai ras dan agama, beragam warna kulit dan latar belakang. Isu agama yang diangkat sebagai motif dari tindakan keji para teroris, menjadi salah satu hal yang menarik untuk dibahas.

    Produksi film yang tinggi dan akting yang dibawakan secara apik oleh para pemainnya menjadikan film ini sangat layak untuk ditonton. Sinematografi dari film ini saya nilai sangat baik, penggambaran kondisi Mumbai pada saat itu terasa sangat mencekam dan acak-acakan setelah diserang oleh para teroris, dihiasi dengan efek tembakan dan ledakan yang terasa sangat realistis, menambah ketegangan saat menonton. Meskipun perkembangan karakter dalam film ini tidak begitu terlihat, penggambaran dan watak dari setiap tokohnya telah disampaikan dengan cukup baik. 

    Namun, alur film ini entah kenapa terasa sangat cepat di awal dan sangat lambat setelahnya. Berulang kali saya dibuat kesal dengan beberapa adegan yang rasanya tidak terlalu perlu, juga beberapa adegan yang cukup penting namun menggantung. Saya pun dibuat kebingungan dengan detail latar tempat yang menjadi jalur pelarian korban selama pengepungan. 

    Di luar itu semua, film ini sangat patut untuk diapresiasi. Pengemasan cerita yang ciamik dari peristiwa yang cakupannya begitu luas dan acak, adalah satu hal yang tidak mudah dilakukan. Pesan moral yang disampaikan begitu tepat menyentuh hati dan memunculkan tanya dalam benak, bagaimana kita seharusnya memperlakukan saudara kita, sesama manusia?

    Isu agama, budaya, dan ras yang diangkat dalam film ini secara halus mencoba untuk memunculkan humor gelap dan anekdot, tanpa menyinggung salah satu pihak secara eksplisit. Isu humanisme tergambar dari pengorbanan dan upaya yang dilakukan oleh para staf hotel dalam melindungi tamu-tamunya. Tentang bagaimana kepedulian terhadap sesama tidak hanya dilakukan dalam formalitas profesional, namun justru menjadi karakter yang tidak akan berubah hanya karena suatu keadaan.

    Film ini -meskipun tidak sepenuhnya sama dengan realita yang terjadi, adalah sebuah karya yang layak untuk ditonton. Modifikasi terhadap beberapa tokoh dan adegan dilakukan demi melindungi jiwa-jiwa yang sakit dari traumanya. Di samping itu, film ini juga menyampaikan banyak pelajaran tanpa menjustifikasi ataupun mengintimidasi satu pihak. Rasanya, kamu akan dengan sendirinya tersadar akan hal-hal dasar yang mungkin telah berangsur hilang dan terlupakan dari lingkungan sosial kita. Sehingga hari ini kita dapati bahwa hal-hal dasar tersebut telah menjadi kebaikan yang luar biasa.

    Hotel Mumbai dapat kamu tonton di Netflix!

    ===========================================================================

    Ditulis di                       : Kereta Serayu Malam

    Dalam perjalanan ke    : Kota Tasikmalaya

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

What's your curiosity?

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Let's be friends!

Foto saya
Hai, aku Hana! Seorang perempuan berumur 20an yang masih single sampai sekarang haha >/< Selamat datang di blogku ya! Aku berharap, blog ini dapat menjadi salah satu tempat paling istimewa di hati teman-teman sekalian ^^ Yuk mulai menjelajah!

Review Film: Hotel Mumbai (2018)

Bisakah kamu bayangkan, bagaimana rasanya dikepung oleh ratusan tembakan saat sedang berlibur? Ya, suasana tersebut mungkin tidak pernah kam...